Judul:
“analisis alamah Dhabt dan Tanqith dalam
penulisan Mushaf”
Nama:
Nuuranisa A. Isima & Fadila K. Amir
(PBA
2B)
Abstrak
Dalam
menulis bahasa Arab, seorang pembelajar bahasa Arab harus memiliki bekal dan
skill khusus dalam menulis hurufhuruf Arab. Agar mereka bisa menulis dengan
bagus mereka dibekali materi khat ‘araby, selain diberi bekal menulis bahasa
Arab dengan bagus mereka juga dibekali materi agar bisa menulis bahasa Arab
dengan benar, yaitu materi qowaid al-imla. Qowaid Al-Imla adalah salah satu
materi keahlian khusus yang diberikan untuk membekali siswa di jurusan
Pendidikan Bahasa Arab (PBA) agar mereka mampu untuk menulis arab dengan baik
dan benar(Arab
et al., n.d.). Tulisan
ini ingin menelisik ulang pembahasan bentuk harakat dan tanda baca dalam Mushaf
Al-Qur'an Standar Indonesia yang telah menjadi standar baku peredaran dan
penerbitan Mushaf Al-Qur'an di Indonesia sejak tahun 1984. Kajian ini penting,
selain sebagai pengantar naskah akademik studi «abt dalam Mushaf Al-Qur'an
Standar juga sebagai upaya mendudukkan kembali sejarah perkembangan harakat dan
tanda baca dalam diskursus penulisan Al-Qur'an (rasm al-mushaf) yang jarang
diulas dalam diskusi penulisan Al-Qur'an di Indonesia. Kedangkalan memahami
ilmu «ab¯ acapkali juga menjadi pemicu perselisihan sebagaimana pembahasan
tentang rasm Usmani dalam penulisan AlQur'an.
Kata kunci: Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia, harakat, dan tanda baca(Sayyidina
et al., 2018)
Kata kunci: Qawaid Imla, Mushaf
Al-Qur'an Standar Indonesia, harakat, dan tanda baca.
A.
PENDAHULUAN
Pengetahuan
mengenai beberapa Istilah Rasm Uthmani seperti Hazf, Ithbat, Ziadah, Ibdal,
Qata’ dan Wasal serta perbezaannya dengan Rasm Qiasi atau dikatakan Rasm Imla’i
masih belum dianggap sempurna sekiranya ia belum mengetahui apa yang dikatakan
Istilah Dhabt yang terdapat dalam al-Quran. Menurut al-Farmawi berdasarkan
informasi ad-Dhani (w. 444 H), sistem warna yang diterapkan di masa awal (baik
menyangkut pada substansi rasm maupun «abt) memiliki varian pewarnaan yang
berbeda-beda berdasarkan wilayah daerah tertentu. Mushaf Madinah menggunakan
tiga sistem pewarnaan; hitam untuk huruf dan naqt al-i’jām, merah untuk harakat, sukun, dan tasydīd, dan
kuning hanya untuk hamzah. Mushaf Andalus (Spanyol) menggunakan empat sistem
pewarnaan; hitam untuk huruf, merah untuk syakl, kuning untuk hamzah dan hijau
untuk alif wa¡al. Mushaf Irak menggunakan dua sistem pewarnaan; merah untuk
hamzah dan hitam untuk huruf. Beberapa mushaf tertentu, mempergunakan tiga
sistem pewarnaan; merah untuk «ammah, kasrah dan fathah, hijau untuk hamzah,
dan kuning untuk hamzah bertasydid.
Pada
asalnya mushaf Usthmani ditulis tanpa baris dan titik. Pada masa itu orang arab
mempunyai kemampuan bahasa secara semula. Mereka mampu menguasai bahasa pertuturan,
syair dan nahu mereka tidak perlu baris dan titik. Ini disebabkan mereka masih
belum lagi terbiasa kepada pergaulan dengan bangsabangsa lain. Walau
bagaimanapun apabila wilayah Islam semakin luas, mereka bergaul dan
berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti Parsi, Roma dan sebagainya yang
menyebabkan penguasaan bahasa arab mereka semakin lemah. Justru itu, titik dan
baris kemudiannya digunakan untuk memudahkan lagi bacaan Al-Qur’an. Orang yang
pertama meletakkan tanda baris dan titik adalah Abu alAswad al-Du’ali dengan
perintah daripada Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) dari Dinasti
Umayah. Ada juga riwayat lain mengatakan bahawa Hasan Basri, Yahya Ya’mar, dan
ramai lagi sebagai orang yang pertama meletakkan tanda-tanda berkenaan yaitu
dengan menambah tanda titik pada huruf-huruf Al-Qur’an dengan tinta yang sama
tanda titik itu dimaksud untuk membedakan huruf ث, ت, ب , dan ي. Namun cara penulisan seperti itu pun masih
menimbulkan kesulitan, karena terlalu banyak titik sehingga hampir-hampir tidak
dapat dibedakan mana titik, baris, dan mana titik huruf. Kemudian Khalil bin
Ahmad bin Amr bin Tamin al Faridhi al Zadi mengubah sistem baris yang dibuat
oleh Abu Aswad ad Du’ali. Yaitu mengganti titik dengan huruf alif kecil diatas
huruf sebagai tanda fathah (bunyi a), huruf ya kecil sebagai tanda kasroh
(bunyi i), dan huruf wau kecil di atas huruf sebagai tanda dhammah (bunyi u).
Selain itu ia menggunakan kepala sin untuk tanda syaddah (konsonan ganda).
Kepala ha untuk sukun (baris mati) dan kepala ain untuk hamzah. Khalil bin
Ahmad juga membuat tanda mad, yaitu tanda bahwa huruf itu harus dibaca panjang,
dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang ada sekarang. Pada masa Khalifah Al Makmun (813-833 M),
para ahli qiroah menambahkan lagi berbagai tanda dalam Al-Qur’an, seperti
membuat tanda-tanda ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), serta
tanda-tanda ibtida’ (memulai membaca), dan menerangkan identitas surah pada
awal setiap surat. Seperti nama surah, tempat turunnya dan jumlah ayatnya.
Tanda-tanda lainnya, adalah tanda pemisah antara satu juz, seperti Juz Amma,
yang diikuti dengan penomorannya. Setiap juzuk mempunyai dua hizb (kelompok
ayat) dan setiap hizb dibagi lagi menjadi arba’ (perempatan). Semua itu
ditandai dengan isyarat-isyarat khusus. Tulisan Al-Qur’an sejak masa Rasulullah
hingga Uthman bersih dari titik dan baris. Sehingga pada masa selanjutnya ulama
pun menyusun suatu ilmu yang dikenal dengan sebutan Dhabtul Qur’an sebagai
petunjuk dalam penulisan titik dan baris huruf dalam Al-Qur’an(Sayyidina
et al., 2018).
B.
PEMBAHASAN
1. Dhabt
Al-Dhabt
ialah suatu ilmu yang membahaskan mengenai tanda untuk membunyikan sesuatu
huruf dari segi i’rab seperti:
a.
Baris Dua/tanwin
b.
Fathah
c.
Dhammah
d.
Kasrah
e.
Tanda Sukun
f.
Tanda Sabdu/Tasydid
g.
Tanda Panjang
h.
Tanda Huruf Dibuang
i.
Tanda Huruf Ditambah
j.
Waqaf, Wasal dan lain-lain lagi(Al-quran,
n.d.).
Pendapat lain
mengatakan Ilmu dhabt adalah ilmu yang terkait tanda baca mengenai huruf
Al-Qur'an seperti titik, harakat, sukun, tanda mad, syiddah dan lain lain. Dalam
ilmu dhabt dikenal dua sistem berkembang hingga saat ini: pertama,
sistem Masyriqi dan kedua sistem Maghribi. Pada penulisan dhabt الم ada
berapa perbedaan penulisan tanda baca:
·
Mushaf Indonesia: diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam
dan mim serta tanda syiddah pada huruf mim.
·
Mushaf Saudi: Hanya diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam
dan mim, tanpa harakat dan tasydid.
·
Mushaf Maroko dan Libya: Diberi hamzah di alif,
tanda mad pada lam dan mim serta harakat pada semua huruf. Jangan
sampai salah membaca الم dengan "alami"
·
Mushaf Pakistan: sama dengan mushaf Indonesia. Bedanya, mim
الم pada awal surah Ali Imran diberi harakat fathah karena setelahnya ada lafdhul
jalalah الله. Sedangkan pada mushaf Indonesia tidak ada harakatnya.
Mengapa diberi
harakat? Karena ketika wasal dengan selanjutnya bacaannya disambung
dengan harakat fathah: Alif laam miimallah, dst(Seperangkat
Pengetahuan yang Harus Dimiliki Penashih Al-Qur’an - Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, n.d.).
Pada hakekatnya
semua huruf Arab adalah konsonan, termasuk alif, wawu dan ya (sering disebut
huruf illat ), akan tetapi huruf-huruf ini tidak akan berbunyi kecuali diberi
tanda baca. Tanda-tanda itu adalah f athah, kasrah, dhu m mah, tanwin, sukun,
dan tasydid . Tanda baca fathah, kasrah, dan dhumah sering juga disebut sebagai
harakat (tanda baca vokal)(Qawaid
al-Imla ’ wa al-Khat 1, n.d.).
Tanda-tanda
Al-Qur’an atau Dhabtul Quran merupakan salah satu seni penulisan dalam
Al-Qur’an rasm Uthmani ada banyak tanda bacaan yang perlu diperhatikan oleh
setiap pembaca. Tanda yang ditempatkan dalam Al-Quran ini bermaksud untuk
membantu pembaca untuk membedakan satu sama lain, antara Dhabtul Quran yang
terkandung di dalam Al-Qur’an yaitu adalah baris atas (fathah), baris bawah
(kasrah) dan baris depan (dhammah). Ada juga baris dua disebut tanwin atas,
bawah dan hadapan huruf, huruf yang ditandai pada sukun atau huruf yang tidak
bertanda sukun. Huruf hija’iyyah yang digunakan dalam penulisan mushaf
Al-Qur’an adalah semua berjumlah 29 huruf. Ulama’ telah membagi 29 huruf itu
dua bagian yaitu:
1) Huruf Muhmal
Huruf yang tidak
mempunyai tanda titik itu berjumlah sebanyak 13 huruf. Huruf-hurufnya adalah
Alif ( َاَ), Ha’ ( حَ ), Dal (دَ), Ra’ (ر), Sin (س), Sad (صَ),Ta’ (طَ),‘Ain( َ
ع ), Kaf (ك), Lam (لَ), Mim (م), Wau (وَ) dan Ha’ (هَ). Para ulama’ telah
bersetuju mengatakan bahwa huruf-huruf itu tidak adaguna sebarang titik
ketikadi awal, di tengah atau akhir kalimat.
2) Huruf Mu’jam
Huruf-huruf yang
mempunyai titik itu berjumlah sebanyak 15 huruf. Huruf-hurufnya adalah Ba’ (ب),
Ta’ (ت), Tsa’ (ثَ), Jim (جَ), Kha’ ( َخَ ), Zal (ذَ), Zai (زَ), Syin (شَ), Dad
(ضَ), Za’ (ظَ), Gain (غَ), Fa’ ( َفَ), Qaf (قَ), Nun (نَ) dan Ya’ (ي).
Bentuk-bentuk tersebut yang telah digunakan dalam penulisan mushaf-mushaf
Al-Quran pada zaman sekarang. Sungguhpun demikian, terdapat juga sedikit
perselisihan di kalangan ulamamengenai beberapa huruf-huruf yang Mu’jam ini,
yaitu dari segi kedudukan dan juga bentuk titik-titiknya(Sayyidina et al., 2018). Antara faedah yang boleh kita
dapati apabila mengetahui tanda al-Dhabt tersebut ialah:
i.
Kita dapat membaca al-Quran dengan tepat dan betul menurut
hukum-hukum yang dikehendaki.
ii.
Menghilangkan kesamaran di atas baris yang tiga ia itu
Fathah, Kasrah dan Dhammah.
2.
Tanqith
Pada
masa pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah bin Abu Sufyan melihat
kesalahan bacaan anaknya dalam tata bahasa arab sehingga beliau menyampaikan
sakwa kepada Gubernur Basrah yang kemudian diteruskan kepada Imam Ali bin Abi
Thalib. Setelah mendengar pengaduan tersebut, Imam Ali memerintahkan kepada Abu
al-Aswad ad-Duali untuk meletakkan kaidah-kaidah nahwu dan cara pengucapannya
yang tepat dan baku seta melakukan proses pensyakalan huruf-huruf
dengan fathah, dhamah, dan kasrah pada mushhaf.
Inilah yang menjadi permulaan ‘ilmu i’rabil Qur’an. Pensyakalan biasa
disebut dengan naqthan (titik) karena Abu al-Aswad ad-Duali menggunakan titik
untuk menstandarisasi harakat suatu kata. Pada masa Daulah Abbasiyyah, Khalil
bin Ahmad telah menandai dhamah dengan wawu kecil diatas
huruf, fathah ditandai dengan alif kecil
diatas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya kecil dibawah
huruf. Kemudian beliau membuat tanda syiddah dan sukun.
Adapun at-tanqith dalam arti membubukan
titik dibawah dan diatas huruf untuk membedakan satu huruf dari huruf yang
lainnya, seperti membedakan ba, ta, dan tsa, telah dilakukan Nashr bin Ashim
dan Yahya bin Ya’mar atas perintah al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi yang merujuk
kepada keputusan Abdul Malik bin Marwan ketika al-Hajjaj menjadi gubernur Irak
(Atho’ bin Khalil, 1990: 86)(al-quran-dan-isi-kandungannya-makalah,
n.d.).
3.
KESIMPULAN
Dhabt Al-Qur’an,
Satu disiplin ilmu yang membahaskan mengenai tanda atau simbol yang diciptakan
oleh para Ulama untuk membantu di dalam pembacaan Al-Quran. Contohnya tanda
baris atas, bawah, dan depan, tanda sabdu, titik-titik pada huruf dan lain-lain
lagi. Antara faedah yang boleh kita dapati apabila mengetahui tanda al-Dhabt
tersebut ialah:
i.
Kita dapat membaca al-Quran dengan tepat dan betul menurut
hukum-hukum yang dikehendaki.
ii.
Menghilangkan kesamaran di atas baris yang tiga ia itu
Fathah, Kasrah dan Dhammah.
at-tanqith adalah membubukan titik dibawah dan
diatas huruf untuk membedakan satu huruf dari huruf yang lainnya, seperti
membedakan ba, ta, dan tsa.
DAFTAR PUSTAKA
Sayyidina, M., Melaka, A. L. I., Tentang, S., Terhadap, S.,
Qur, D. A.-, & Baris, T. D. A. N. (2018). Nurul najihah binti husin
43.15.5.055.
Al-quran, I. D. (n.d.). Istilah Dhabt Al-Quran 83.
83–96.
Qawaid al-Imla ’ wa al-Khat 1. (n.d.).
Arab, B., Uin, P. B. A., Malik, M., Malang, I., Maulana, U.
I. N., & Ibrahim, M. (n.d.). PEMBELAJARAN QOWAID AL-IMLAK DI JURUSAN
PENDIDIKAN. 318–324.
Seperangkat Pengetahuan yang Harus Dimiliki Penashih
Al-Qur’an - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. (n.d.).
Madzkur, Z. A. (1984). Harakat dan Tanda Baca Mushaf
Al-Qur ’ an Standar Indonesia dalam Perspektif Ilmu Dabt Vowel and Punctuation
Mark of the Qur ’ an of Indonesian Standard in the Perspective of Dabt Science.
al-quran-dan-isi-kandungannya-makalah. (n.d.)