Senin, 20 April 2020

Analisis Dhabt dan Tanqith dalam penulisan mushaf, Qawaid imla wal khat


Judul: “analisis alamah Dhabt dan Tanqith dalam penulisan Mushaf”
Nama: Nuuranisa A. Isima & Fadila K. Amir
(PBA 2B)


Abstrak
Dalam menulis bahasa Arab, seorang pembelajar bahasa Arab harus memiliki bekal dan skill khusus dalam menulis hurufhuruf Arab. Agar mereka bisa menulis dengan bagus mereka dibekali materi khat ‘araby, selain diberi bekal menulis bahasa Arab dengan bagus mereka juga dibekali materi agar bisa menulis bahasa Arab dengan benar, yaitu materi qowaid al-imla. Qowaid Al-Imla adalah salah satu materi keahlian khusus yang diberikan untuk membekali siswa di jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) agar mereka mampu untuk menulis arab dengan baik dan benar(Arab et al., n.d.). Tulisan ini ingin menelisik ulang pembahasan bentuk harakat dan tanda baca dalam Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia yang telah menjadi standar baku peredaran dan penerbitan Mushaf Al-Qur'an di Indonesia sejak tahun 1984. Kajian ini penting, selain sebagai pengantar naskah akademik studi «abt dalam Mushaf Al-Qur'an Standar juga sebagai upaya mendudukkan kembali sejarah perkembangan harakat dan tanda baca dalam diskursus penulisan Al-Qur'an (rasm al-mushaf) yang jarang diulas dalam diskusi penulisan Al-Qur'an di Indonesia. Kedangkalan memahami ilmu «ab¯ acapkali juga menjadi pemicu perselisihan sebagaimana pembahasan tentang rasm Usmani dalam penulisan AlQur'an.  Kata kunci: Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia, harakat, dan tanda baca(Sayyidina et al., 2018)
Kata kunci: Qawaid Imla, Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia, harakat, dan tanda baca.

A.    PENDAHULUAN
Pengetahuan mengenai beberapa Istilah Rasm Uthmani seperti Hazf, Ithbat, Ziadah, Ibdal, Qata’ dan Wasal serta perbezaannya dengan Rasm Qiasi atau dikatakan Rasm Imla’i masih belum dianggap sempurna sekiranya ia belum mengetahui apa yang dikatakan Istilah Dhabt yang terdapat dalam al-Quran. Menurut al-Farmawi berdasarkan informasi ad-Dhani (w. 444 H), sistem warna yang diterapkan di masa awal (baik menyangkut pada substansi rasm maupun «abt) memiliki varian pewarnaan yang berbeda-beda berdasarkan wilayah daerah tertentu. Mushaf Madinah menggunakan tiga sistem pewarnaan; hitam untuk huruf dan naqt al-i’jām,  merah untuk harakat, sukun, dan tasydīd, dan kuning hanya untuk hamzah. Mushaf Andalus (Spanyol) menggunakan empat sistem pewarnaan; hitam untuk huruf, merah untuk syakl, kuning untuk hamzah dan hijau untuk alif wa¡al. Mushaf Irak menggunakan dua sistem pewarnaan; merah untuk hamzah dan hitam untuk huruf. Beberapa mushaf tertentu, mempergunakan tiga sistem pewarnaan; merah untuk «ammah, kasrah dan fathah, hijau untuk hamzah, dan kuning untuk hamzah bertasydid.
Pada asalnya mushaf Usthmani ditulis tanpa baris dan titik. Pada masa itu orang arab mempunyai kemampuan bahasa secara semula. Mereka mampu menguasai bahasa pertuturan, syair dan nahu mereka tidak perlu baris dan titik. Ini disebabkan mereka masih belum lagi terbiasa kepada pergaulan dengan bangsabangsa lain. Walau bagaimanapun apabila wilayah Islam semakin luas, mereka bergaul dan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti Parsi, Roma dan sebagainya yang menyebabkan penguasaan bahasa arab mereka semakin lemah. Justru itu, titik dan baris kemudiannya digunakan untuk memudahkan lagi bacaan Al-Qur’an. Orang yang pertama meletakkan tanda baris dan titik adalah Abu alAswad al-Du’ali dengan perintah daripada Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) dari Dinasti Umayah. Ada juga riwayat lain mengatakan bahawa Hasan Basri, Yahya Ya’mar, dan ramai lagi sebagai orang yang pertama meletakkan tanda-tanda berkenaan yaitu dengan menambah tanda titik pada huruf-huruf Al-Qur’an dengan tinta yang sama tanda titik itu dimaksud untuk membedakan huruf ث, ت, ب , dan  ي. Namun cara penulisan seperti itu pun masih menimbulkan kesulitan, karena terlalu banyak titik sehingga hampir-hampir tidak dapat dibedakan mana titik, baris, dan mana titik huruf. Kemudian Khalil bin Ahmad bin Amr bin Tamin al Faridhi al Zadi mengubah sistem baris yang dibuat oleh Abu Aswad ad Du’ali. Yaitu mengganti titik dengan huruf alif kecil diatas huruf sebagai tanda fathah (bunyi a), huruf ya kecil sebagai tanda kasroh (bunyi i), dan huruf wau kecil di atas huruf sebagai tanda dhammah (bunyi u). Selain itu ia menggunakan kepala sin untuk tanda syaddah (konsonan ganda). Kepala ha untuk sukun (baris mati) dan kepala ain untuk hamzah. Khalil bin Ahmad juga membuat tanda mad, yaitu tanda bahwa huruf itu harus dibaca panjang, dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang ada sekarang.  Pada masa Khalifah Al Makmun (813-833 M), para ahli qiroah menambahkan lagi berbagai tanda dalam Al-Qur’an, seperti membuat tanda-tanda ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca), serta tanda-tanda ibtida’ (memulai membaca), dan menerangkan identitas surah pada awal setiap surat. Seperti nama surah, tempat turunnya dan jumlah ayatnya. Tanda-tanda lainnya, adalah tanda pemisah antara satu juz, seperti Juz Amma, yang diikuti dengan penomorannya. Setiap juzuk mempunyai dua hizb (kelompok ayat) dan setiap hizb dibagi lagi menjadi arba’ (perempatan). Semua itu ditandai dengan isyarat-isyarat khusus. Tulisan Al-Qur’an sejak masa Rasulullah hingga Uthman bersih dari titik dan baris. Sehingga pada masa selanjutnya ulama pun menyusun suatu ilmu yang dikenal dengan sebutan Dhabtul Qur’an sebagai petunjuk dalam penulisan titik dan baris huruf dalam Al-Qur’an(Sayyidina et al., 2018).


B.     PEMBAHASAN
1.      Dhabt
Al-Dhabt ialah suatu ilmu yang membahaskan mengenai tanda untuk membunyikan sesuatu huruf dari segi i’rab seperti:
a.       Baris Dua/tanwin
b.      Fathah
c.       Dhammah
d.      Kasrah
e.       Tanda Sukun
f.       Tanda Sabdu/Tasydid
g.      Tanda Panjang
h.      Tanda Huruf Dibuang
i.        Tanda Huruf Ditambah
j.        Waqaf, Wasal dan lain-lain lagi(Al-quran, n.d.).
Pendapat lain mengatakan Ilmu dhabt adalah ilmu yang terkait tanda baca mengenai huruf Al-Qur'an seperti titik, harakat, sukun, tanda mad, syiddah dan lain lain. Dalam ilmu dhabt dikenal dua sistem berkembang hingga saat ini: pertama, sistem Masyriqi dan kedua sistem Maghribi. Pada penulisan dhabt الم ada berapa perbedaan penulisan tanda baca:
·         Mushaf Indonesia: diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam dan mim serta tanda syiddah pada huruf mim.
·         Mushaf Saudi: Hanya diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam dan mim, tanpa harakat dan tasydid.
·         Mushaf Maroko dan Libya: Diberi hamzah di alif, tanda mad pada lam dan mim serta harakat pada semua huruf. Jangan sampai salah membaca الم dengan "alami"
·         Mushaf Pakistan: sama dengan mushaf Indonesia. Bedanya, mim الم pada awal surah Ali Imran diberi harakat fathah karena setelahnya ada lafdhul jalalah الله. Sedangkan pada mushaf Indonesia tidak ada harakatnya.
Mengapa diberi harakat? Karena ketika wasal dengan selanjutnya bacaannya disambung dengan harakat fathah: Alif laam miimallah, dst(Seperangkat Pengetahuan yang Harus Dimiliki Penashih Al-Qur’an - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, n.d.).
Pada hakekatnya semua huruf Arab adalah konsonan, termasuk alif, wawu dan ya (sering disebut huruf illat ), akan tetapi huruf-huruf ini tidak akan berbunyi kecuali diberi tanda baca. Tanda-tanda itu adalah f athah, kasrah, dhu m mah, tanwin, sukun, dan tasydid . Tanda baca fathah, kasrah, dan dhumah sering juga disebut sebagai harakat (tanda baca vokal)(Qawaid al-Imla ’ wa al-Khat 1, n.d.).
Tanda-tanda Al-Qur’an atau Dhabtul Quran merupakan salah satu seni penulisan dalam Al-Qur’an rasm Uthmani ada banyak tanda bacaan yang perlu diperhatikan oleh setiap pembaca. Tanda yang ditempatkan dalam Al-Quran ini bermaksud untuk membantu pembaca untuk membedakan satu sama lain, antara Dhabtul Quran yang terkandung di dalam Al-Qur’an yaitu adalah baris atas (fathah), baris bawah (kasrah) dan baris depan (dhammah). Ada juga baris dua disebut tanwin atas, bawah dan hadapan huruf, huruf yang ditandai pada sukun atau huruf yang tidak bertanda sukun. Huruf hija’iyyah yang digunakan dalam penulisan mushaf Al-Qur’an adalah semua berjumlah 29 huruf. Ulama’ telah membagi 29 huruf itu dua bagian yaitu: 
1) Huruf  Muhmal 
Huruf yang tidak mempunyai tanda titik itu berjumlah sebanyak 13 huruf. Huruf-hurufnya adalah Alif ( َاَ), Ha’ ( حَ ), Dal (دَ), Ra’ (ر), Sin (س), Sad (صَ),Ta’ (طَ),‘Ain( َ ع ), Kaf (ك), Lam (لَ), Mim (م), Wau (وَ) dan Ha’ (هَ). Para ulama’ telah bersetuju mengatakan bahwa huruf-huruf itu tidak adaguna sebarang titik ketikadi awal, di tengah atau akhir kalimat.
2) Huruf Mu’jam
Huruf-huruf yang mempunyai titik itu berjumlah sebanyak 15 huruf. Huruf-hurufnya adalah Ba’ (ب), Ta’ (ت), Tsa’ (ثَ), Jim (جَ), Kha’ ( َخَ ), Zal (ذَ), Zai (زَ), Syin (شَ), Dad (ضَ), Za’ (ظَ), Gain (غَ), Fa’ ( َفَ), Qaf (قَ), Nun (نَ) dan Ya’ (ي). Bentuk-bentuk tersebut yang telah digunakan dalam penulisan mushaf-mushaf Al-Quran pada zaman sekarang. Sungguhpun demikian, terdapat juga sedikit perselisihan di kalangan ulamamengenai beberapa huruf-huruf yang Mu’jam ini, yaitu dari segi kedudukan dan juga bentuk titik-titiknya(Sayyidina et al., 2018). Antara faedah yang boleh kita dapati apabila mengetahui tanda al-Dhabt tersebut ialah:
i.                            Kita dapat membaca al-Quran dengan tepat dan betul menurut hukum-hukum yang dikehendaki.
ii.                          Menghilangkan kesamaran di atas baris yang tiga ia itu Fathah, Kasrah dan Dhammah.

2.      Tanqith
Pada masa pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah bin Abu Sufyan melihat kesalahan bacaan anaknya dalam tata bahasa arab sehingga beliau menyampaikan sakwa kepada Gubernur Basrah yang kemudian diteruskan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Setelah mendengar pengaduan tersebut, Imam Ali memerintahkan kepada Abu al-Aswad ad-Duali untuk meletakkan kaidah-kaidah nahwu dan cara pengucapannya yang tepat dan baku seta melakukan proses pensyakalan huruf-huruf dengan fathah, dhamah, dan kasrah pada mushhaf. Inilah yang menjadi permulaan ‘ilmu i’rabil Qur’an. Pensyakalan biasa disebut dengan naqthan (titik) karena Abu al-Aswad ad-Duali menggunakan titik untuk menstandarisasi harakat suatu kata. Pada masa Daulah Abbasiyyah, Khalil bin Ahmad telah menandai dhamah dengan wawu kecil diatas huruf, fathah ditandai dengan alif kecil diatas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya kecil dibawah huruf. Kemudian beliau membuat tanda syiddah dan sukun.
Adapun at-tanqith dalam arti membubukan titik dibawah dan diatas huruf untuk membedakan satu huruf dari huruf yang lainnya, seperti membedakan ba, ta, dan tsa, telah dilakukan Nashr bin Ashim dan Yahya bin Ya’mar atas perintah al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi yang merujuk kepada keputusan Abdul Malik bin Marwan ketika al-Hajjaj menjadi gubernur Irak (Atho’ bin Khalil, 1990: 86)(al-quran-dan-isi-kandungannya-makalah, n.d.).











3.      KESIMPULAN
Dhabt Al-Qur’an, Satu disiplin ilmu yang membahaskan mengenai tanda atau simbol yang diciptakan oleh para Ulama untuk membantu di dalam pembacaan Al-Quran. Contohnya tanda baris atas, bawah, dan depan, tanda sabdu, titik-titik pada huruf dan lain-lain lagi. Antara faedah yang boleh kita dapati apabila mengetahui tanda al-Dhabt tersebut ialah:
i.                            Kita dapat membaca al-Quran dengan tepat dan betul menurut hukum-hukum yang dikehendaki.
ii.                          Menghilangkan kesamaran di atas baris yang tiga ia itu Fathah, Kasrah dan Dhammah.
at-tanqith adalah membubukan titik dibawah dan diatas huruf untuk membedakan satu huruf dari huruf yang lainnya, seperti membedakan ba, ta, dan tsa.





DAFTAR PUSTAKA
Sayyidina, M., Melaka, A. L. I., Tentang, S., Terhadap, S., Qur, D. A.-, & Baris, T. D. A. N. (2018). Nurul najihah binti husin 43.15.5.055.
Al-quran, I. D. (n.d.). Istilah Dhabt Al-Quran 83. 83–96.
Qawaid al-Imla ’ wa al-Khat 1. (n.d.).
Arab, B., Uin, P. B. A., Malik, M., Malang, I., Maulana, U. I. N., & Ibrahim, M. (n.d.). PEMBELAJARAN QOWAID AL-IMLAK DI JURUSAN PENDIDIKAN. 318–324.
Seperangkat Pengetahuan yang Harus Dimiliki Penashih Al-Qur’an - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. (n.d.).
Madzkur, Z. A. (1984). Harakat dan Tanda Baca Mushaf Al-Qur ’ an Standar Indonesia dalam Perspektif Ilmu Dabt Vowel and Punctuation Mark of the Qur ’ an of Indonesian Standard in the Perspective of Dabt Science.
al-quran-dan-isi-kandungannya-makalah. (n.d.)



Analisis Dhabt dan Tanqith dalam penulisan mushaf, Qawaid imla wal khat

Judul: “analisis alamah Dhabt dan Tanqith dalam penulisan Mushaf” Nama: Nuuranisa A. Isima & Fadila K. Amir (PBA 2B) ( nuranisai...